Kamis, 11 Juli 2013

Kekayaan Bukan Segalanya (self-injury)

Sejak aku berumur 13 tahun, aku selalu bermimpi untuk keluar dari rumah mewah ini. Semua orang mungkin akan iri dengan tempat tinggalku, tapi bagi aku, apalah artinya sebuah rumah yang indah dan kokoh, tapi aku tidak pernah merasakan aku hidup di tempat ini. Ruangan yang paling ku benci di rumah ini adalah ruang makan, kamar kakakku, dan terlebih, kamarku sendiri.

Sabtu, 28 Februari 2009
Hari ini adalah ulangtahunku yang ke 17. Tak banyak yang berubah, aku masih menjadi anak kedua dari dua saudara, keluargaku masih dianggap sebagai keluarga yang memiliki ekonomi di atas rata-rata. Apapun yang dibutuhkan di keluarga ini, pasti akan terwujud sesegera mungkin. Keluarga ini memang selalu menang mengenai materi, tapi kosong mengenai harapan dan impian. Bagaimana bisa aku bertahan lebih lama lagi di tempat ini?

“Tok.. Tok.. Tok!!” pintu kamarku yang selalu aku kunci digedor oleh susterku.

Jangan tanyakan mengapa aku masih memiliki suster pribadi di usiaku sekarang. Sunny, kakak perempuanku yang bertaut 3 tahun dari usiaku pun masih harus memiliki suster pribadi. Orangtuaku memang selalu berusaha memastikan bahwa semua anak-anaknya tidak kerepotan saat ingin mengambil barang, menyusun barang-barang serta pakaian saat ingin berpergian, dan bahkan hal-hal kecil lainnya yang sebenarnya dapat kita lakukan sendiri. Entah itu hal yang yang baik atau tidak, yang pasti, aku tidak pernah menginginkan semua itu. Bagaimana tidak? Selama masih ada suster-suster pribadi itu, berharap orangtuaku akan memastikan kita baik-baik saja hanya akan menjadi mimpi yang tidak akan pernah terwujud. Mereka terlalu mempercayakan suster-suster itu, yang sebenarnya, mereka hanyalah mengganggu kehidupanku yang “sebenarnya”.

“Aku turun sekarang!” jeritku, sudah mengetahui apa yang harus aku lakukan.

Aku masih menyempatkan diri untuk bercermin, memastikan bahwa make-up ku tidak luntur dan memastikan bahwa beberapa hal yang harus aku “tutupi” tak terlihat. Jam masih menunjukkan pukul 4 sore, tapi aku sudah harus menuju hotel berbintang lima yang sangat terkenal di pusat kota Jakarta. Aku memang tidak pernah mengharapkan adanya hari ini. Aku tidak seperti anak-anak perempuan lainnya yang sangat antusias sekali saat ulangtahun ke-17nya dirayakan besar-besaran seperti aku. Terlebih karena, aku harus menutupi banyak hal di pesta ini dari orang-orang yang rata-rata tidak pernah aku temui sama sekali, di antaranya adalah rekan kerja orangtuaku, hingga semua karyawan orangtuaku.


Aku muak dengan semua ini. Aku muak dengan semua kemewahan yang sebenarnya semakin membuat hidupku tidak beraturan. Aku harus menjaga nama baik orangtuaku, aku harus mengikuti apa yang mereka paksakan dalam hidupku, dan aku juga dituntut untuk menjadi seperti kakakku. Aku benci hidupku. Lupakan semua hal mengenai sekolahku, aku bahkan tidak memiliki waktu untuk belajar, karena aku tahu, aku memang sebaiknya tidak ada di dunia ini.

Pukul 19.00
“Dengan demikian, acara “Sweet Seventeenth Leona Rainie akan dimulai sesaat lagi!” teriak MC acara yang kata kedua orangtuaku adalah aktor papan atas, namun aku bahkan tidak peduli.

“Diharapkan untuk para hadirin yang terhormat untuk berdiri sambil menyambut kehadiran Leona Rainie di tempat ini!”

Disusul dengan tepukan tangan dari semua tamu, aku berjalan perlahan di atas karpet merah, berusaha tersenyum semaksimal mungkin, walaupun yang aku rasakan hanyalah kehampaan. Di atas panggung, aku disambut oleh MC, dan belasan blitz dari kameramen berusaha menangkap siluet tubuhku.

Acara berjalan lancar, semua orang yang tak ku kenal itu memberikan ucapan selamat satu per satu dan semuanya kembali berbincang-bincang dengan orangtuaku.

“Kalian adalah orangtua yang hebat, bisa membesarkan kedua putri tercinta dan memastikan mereka tumbuh dengan baik dan tidak kekurangan.”

“Anak mana yang tidak akan iri jika melihat acara ulangtahun semewah ini!”

Pembicaraan seperti itu sudah sangat familiar di kehidupanku. Mereka hanya tidak tahu ada apa di balik kain yang menutupi pundak dan lenganku ini. Mereka hanyalah tidak mengerti apa yang selama ini aku rasakan. Mereka tidak pernah menanyakan mengapa mereka tidak melihat anak-anak sebayaku yang datang ke acara pentingku yang sebesar ini. Mereka tidak akan pernah tahu bahwa aku tak memiliki seorangpun di lingkunganku dan bahkan sekolahku. Aku hanyalah seorang Rainie yang memiliki banyak orang yang kagum pada kedua orangtuaku dan hidupku yang berkecukupan, namun hidupku yang sebenarnya adalah di saat aku memasuki kamar pribadiku dan menguncinya dari dalam. Aku bersyukur, setidaknya aku dapat tampil sebagai anak yang antusias dan bahagia di pesta ini hingga selesai. Sekali lagi, aku berhasil membuat orangtuaku bahagia.

Setibanya di rumah, suster pribadiku membantuku melepaskan heels dan membantu memasukkan semua properti milikku ke dalam kamarku kembali. Ia sempat menawarkan untuk membantu melepaskan tali-tali di gaunku, tapi aku secepat mungkin menolak. Aku tahu tidak ada satu pun orang yang boleh mengetahui ada apa di balik kain dan gaun ini


Minggu, 1 Maret 2009
Aku terbangun pukul 4 di pagi hari dan aku selalu tidak dapat kembali untuk tidur lagi setelah terbangun. Aku berusaha bangun dan berjalan menuju meja belajarku dengan terhuyung-huyung. Aku merasakan kepalaku sangat berat dan badan yang teramat letih. Ah, aku ingat jelas, apa yang aku lakukan kemarin malam. Lagi dan lagi, aku menangis hingga terlelap. Setidaknya, aku tidak melakukan hal “itu”.

“Apa yang harus dilakukan sepagi ini?” gumamku sambil menarik napas lemah.

Tanggal di kalender di meja belajarku tidak hanya berwarna merah hari ini, namun ada catatan kecil,“SIAD”1. Tahun baru 2009 yang lalu, aku sengaja menandai tanggal ini, dengan harapan aku tidak akan “bermain” lagi dengan gunting dan silet yang aku sembunyikan di bawah tempat tidurku. Namun, aku sampai sekarang masih melakukan itu, guna menahan semua gejolak hati yang terkadang sudah tidak dapat aku tahan lagi. Aku melakukan semua hal ini bukan untuk mati. Seringkali aku berpikir bahwa aku memang tidak pantas hidup di dunia ini, namun tidak berarti aku akan kalah dari semua ini.

Aku mengambil gunting kecil dari bawah tempat tidurku, mengambil sisa kertas origami berwarna oranye, mengguntingnya, dan melipatnya menjadi sebuah pita. Aku mengambil sebuah spidol berwarna merah berusaha menuliskan sebuah kata, “LOVE”, di pergelangan tanganku.

“RRHHHH!!! AHHHHHH!” jeritku kesakitan dan tanpa sadar, spidol itu sudah terlempar dari tanganku.

Meskipun harus menahan sakit, aku berusaha keras untuk tetap menuliskan kata itu di pergelangan tanganku yang masih penuh dengan goresan luka yang belum mengering. Aku menangis lagi, menyadari betapa aku sangat ingin dicintai. Aku ingin dicintai kedua orangtuaku, aku ingin mereka mengerti bahwa aku tidak ingin meneruskan usaha mereka. Mereka seharusnya menjadi orang yang paling mengerti dan mendengarkan aku. Tapi mengapa mereka bahkan lebih memilih untuk melihat aku yang berlari dan membanting pintu kamar, daripada berusaha melihat bakatku?

Aku memang tidak pernah berharap ada lawan jenis yang menyayangiku dengan tulus. Bagiku, lawan jenis hanyalah akan menambah masalah hidupku dan aku pun tidak rela jika aku harus membagi rahasiaku ini dengan orang lain. Cukup hanya diriku dan kamar ini yang menjadi saksi bisu setiap malam menjelang pagi hari.

Ah, aku tak boleh menangis terus-menerus seperti ini. Aku harus kembali mengingat tujuanku di tanggal 1 Maret ini, meskipun di Indonesia, hari ini hanyalah dianggap hari Minggu biasa. Pita oranye dan sebuah kata “LOVE” di pergelangan tanganku setidaknya telah membuat aku menyadari bahwa aku tidak sendirian hari ini. Masih banyak orang di luar sana yang melakukan apa yang aku lakukan setiap harinya dan berjuang untuk dicintai.

Jumat, 6 April 2007
“Kamu ini apa-apaan?! Baru umur 15 tahun, sudah bisa membangkang orangtua yang selama ini membesarkan kamu! Anak macam apa kamu!” bentak ayah di depan ibu dan kakakku.

“Coba Rei kamu pikirkan ulang apa yang ayah katakan. Ayah hanya ingin yang terbaik untuk masa depan kamu. Kamu lihat, Sunny baru berumur 18 tahun, tapi dia sekarang sudah bisa ikut membantu ayah di perusahaan.” ujar Ibu dengan lemah lembut, sambil memelukku.

Sebisa mungkin, aku menahan air mata itu jatuh dari mataku. Setelah semua yang aku lewati, aku tidak ingin terlihat lemah di depan kedua orangtuaku. Pelukan itu hampir membuat aku lemah, karena Ibu sangatlah jarang memelukku.

“A-Aku....” aku ingin membela diri, namun suara itu memang tidak pernah keluar sebagaimana mestinya.

“Pokoknya, kalau kamu masih ingin tinggal di rumah ini, ikuti aturan yang ada di rumah ini! Jangan pernah sekalipun kamu membangkang atau kamu akan tahu apa akibatnya!” suara ayah semakin meninggi dan ancaman itu sudah sangat familiar sejak aku berumur 13 tahun.

“Ya” jawabku seadanya.

“Dengar ayah, Rei. Kamu ingat waktu dulu kakakmu memaksa ayah untuk mengijinkannya masuk jurusan design grafis? Apa kamu tidak lihat betapa dia menyesal telah melawan ayah? Ayah tahu apa yang baik bagi masa depan kalian. Kamu pikirkan baik-baik. Ayah tidak ingin kamu akhirnya menyesal seperti kakakmu dan walaupun akhirnya dia berpindah ke jurusan ekonomi, itu hanya akan membuang-buang waktu!” ceramah ayah yang sebenarnya sudah tidak ingin aku dengar.

“Ya. Tolong jangan marahi aku lagi. Aku sudah mengerti.” sahutku lemah.

Aku berusaha berdiri dari tempatku sebelum air mata itu jatuh tidak pada tempatnya, berlari secepat mungkin ke kamarku, membanting pintu kamar, dan menguncinya dari dalam. Aku menangis, entah hingga kapan. Aku hanya tahu, bahwa aku harus mengambil benda-benda tajam di tempat persembunyianku. Lagi dan lagi, aku tidak dapat dihentikan. Tangisanku pun tak akan pernah didengar oleh siapapun. Aku akan seperti ini hingga aku didengar. Ya, aku hanya ingin didengar. Aku tidak mau lagi dibanding-bandingkan dengan Sunny. Aku adalah aku, akulah satu-satunya orang yang akan menentukan ke mana masa depanku berada.

Hari ini akhirnya aku lagi-lagi terlelap dengan air mata yang mengering di sekitar pipi, mata yang membengkak, serta beberapa goresan baru lagi di lengan tangan kiriku.

“Rei, ayah dan ibu mengerti keinginanmu, kamu boleh memilih jalanmu sendiri. Kamu boleh mengambil jurusan sastra Indonesia untuk masa depan kamu. Kamu berhak untuk mendapatkan itu. Rei, jangan bersedih lagi.” suara ayah dan ibu terdengar sedikit bergema namun sangat jelas.

“Ayah… Ibu...A-Aku mencinta...” balasku, terhenti.

Aku berusaha menahan air mata kebahagiaan yang hampir jatuh begitu saja. Aku benar-benar bahagia karena akhirnya mereka dapat mengerti apa yang aku inginkan. Namun, tubuh ayah dan ibu semakin lama, memudar.

“AAAAAAAHHHHHH!!!!” teriakku, sadar dengan apa yang barusan terjadi.

Aku melirik sesaat ke jendela di kamarku, langit sudah tidak segelap di saat malam hari. Sejenak aku menerka, mungkin jam setengah lima pagi.

“Mimpi itu lagi. Mimpi itu lagi. Mengapa suara itu hanya selalu datang di saat aku terlelap. Apakah harapanku ini memang hanya sebatas mimpi yang tidak akan pernah terwujud? Aku benci semua ini!” suaraku parau, diiringi tangis kelelahan dan keringat yang sudah membasahi bajuku.

Subuh itu, aku lagi-lagi melakukannya. Entah apa yang aku pikirkan saat aku mengambil silet itu lagi. Goresan baru di punggung kiri ku kini semakin dalam dan mengeluarkan sedikit bercak merah darah. Aku tak takut pada apapun lagi. Meski aku tahu, self-injury ku ini akan memburuk dan terus memburuk. 

0 komentar:

Poskan Komentar

Berkomentar lah Dengan Baik :)